Antara Bencana dan Konten Kreator: Ketika Kamera Mengalahkan Nurani

Sebelum saya menulis lebih jauh, izinkan saya menegaskan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi rasa empati dan kesedihan saya terhadap para korban bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Hati saya turut berduka bagi mereka yang kehilangan rumah, harta, dan orang yang dicintai. Doa terbaik juga saya panjatkan untuk para relawan, tenaga medis, aparat, dan semua yang bekerja tanpa pamrih di lapangan.

Indonesia kembali diuji dengan berbagai bencana alam. Banjarnegara, Sumatera Barat, Kalimantan, Jawa Barat, Nusa Tenggara—nama demi nama daerah kembali menghiasi pemberitaan, bukan karena prestasi atau kabar baik, melainkan karena musibah. Setiap kali bencana datang, rasa syok, panik, dan duka seharusnya menjadi momen refleksi bagi kita semua.

Namun di balik kabar duka itu, muncul fenomena yang miris: semakin banyak orang yang menjadikan bencana sebagai panggung konten.

Ketika Bencana Menjadi Latar Belakang Konten

Fenomena ini bukan sekadar orang mengabadikan peristiwa, tetapi menjadikan tragedi sebagai bahan konten viral — seolah nilai kemanusiaan dapat dikonversi menjadi likes, views, dan followers.

Beberapa contoh yang kini banyak ditemukan:

  • Konten kreator berlari menuju lokasi banjir hanya untuk mengambil video dramatis.
  • Warga mengabadikan proses evakuasi korban dan mengunggahnya tanpa sensor.
  • Pembuat konten mengatur adegan dan ekspresi seolah sedang berduka, padahal beberapa detik sebelumnya tertawa sambil memilih angle terbaik.

Yang lebih mengkhawatirkan, demi mendapatkan konten terbaik, tidak sedikit orang yang nekat berada di area berbahaya, seperti pinggir sungai dengan arus deras, bangunan yang setengah runtuh, atau area rawan longsor. Beberapa bahkan mengabaikan instruksi petugas, mendekati api, aliran listrik, atau reruntuhan hanya demi mendapatkan rekaman dramatis yang bisa viral.

Pada titik ini, kita perlu bertanya:

Apakah kamera telah lebih penting daripada kemanusiaan?
Apakah tragedi orang lain kini hanya dianggap sebagai peluang konten?

Apakah sebuah video layak dibayar dengan risiko kehilangan nyawa—baik diri sendiri maupun orang lain?

Ketika Kamera Membuat Kita Lupa Menjadi Manusia

Di lapangan, ada pula yang lebih sibuk mengatur posisi kamera daripada memberi jalan bagi tim evakuasi. Ada yang memaksa mengambil gambar meskipun relawan sudah meminta menjauh. Ada juga yang meng-upload visual korban dalam kondisi mengenaskan, tanpa izin, tanpa sensor, tanpa memikirkan dampak psikologis bagi keluarga.

Perlahan—tanpa sadar—budaya dokumentasi digital telah menggerus rasa empati dan simpati.
Kesedihan orang lain berubah menjadi hiburan.
Tragedi berubah menjadi tontonan.

Dan manusia berubah menjadi sekadar objek konten.

Antara Dokumentasi dan Eksploitasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa dokumentasi bencana diperlukan. Media, lembaga kemanusiaan, dan jurnalis memiliki peran penting dalam:

  • Memberikan informasi situasi darurat
  • Mengajak masyarakat membantu
  • Menyampaikan kondisi faktual kepada pemerintah

Namun, ada garis tegas yang membedakan dokumentasi sebagai bentuk kepedulian dan eksploitasi untuk popularitas.

Dokumentasi yang etis selalu mengandung prinsip:

  1. Mengutamakan keselamatan diri dan orang lain
  2. Tidak mengganggu proses evakuasi
  3. Menghormati privasi korban dan keluarga
  4. Tidak menyebarkan gambar jenazah atau korban tanpa izin
  5. Tidak menambah kepanikan atau informasi yang misleading

Sayangnya, tidak semua yang memegang kamera memahami atau peduli terhadap prinsip tersebut.

Peran Kita Sebagai Penonton

Fenomena ini bukan hanya soal pembuat konten, tetapi juga kita sebagai konsumen digital. Karena selama:

  • konten berbasis sensasi tetap ditonton,
  • video tragedi tetap dibagikan,
  • eksploitasi tetap diberi panggung,

maka selalu ada alasan bagi seseorang untuk meneruskan perilaku yang sama.

Pada akhirnya, algoritma hanya mengikuti apa yang kita pilih — dan pilihan itu mencerminkan siapa kita sebagai masyarakat.

Saatnya Kembali ke Nilai Dasar: Kemanusiaan

Teknologi bukan musuh kita. Kamera, media sosial, dan platform digital adalah alat. Yang menentukan moralnya adalah cara kita menggunakannya.

Di tengah bencana, peran kita bukan menjadi penonton pasif atau pemburu sensasi, tetapi:

  • membantu jika mampu,
  • memberi ruang bagi tim penyelamat,
  • mendoakan,
  • mendukung donasi,
  • atau minimal tidak memperburuk keadaan.

Karena sebelum kita menjadi konten kreator, pengguna digital, atau pemegang kamera, kita adalah manusia.

Dan manusia seharusnya memiliki empati.

Leave a Comment