Pagi ini, 6 Agustus 2026, rute harian menuju tempat kerja mendadak terhenti. Di depan mata, sebuah kecelakaan baru saja terjadi. Seorang ibu paruh baya pengendara motor tiba-tiba masuk ke jalan utama tanpa menoleh.
Karena jarak yang sudah terlalu dekat, maka motor ibu tertabrak motor di belakangnya. Beliau ambruk, dan seluruh bawaannya—mulai dari keranjang berisi dagangan, kursi dan meja kecil hingga peralatan jualan lainnya—berhamburan di aspal.
Tanpa banyak mikir, aku dan temanku langsung menepi (kebetulan aku diantar temen, jadi berangkat berboncengan). Kami membantu si ibu duduk di pinggir jalan, mengobati luka lecetnya, dan membereskan barang-barang yang tumpah ruah.
Mengingat beliau masih syok, kami memutuskan untuk mengantarnya ke pasar tujuannya yang berjarak sekitar 2 kilometer. Temanku akhirnya memboncengkan si ibu, sementara aku mengambil alih motor beliau yang penuh dengan muatan.
Lewat tulisan ini, aku sama sekali nggak bermaksud mencari pembenaran tentang siapa yang salah atau benar secara aturan lalu lintas. Jelas, masuk ke jalan utama tanpa melihat situasi itu membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Tapi mari kita kesampingkan dulu urusan itu sejenak. Ada sisi lain yang menurutku jauh lebih menyentuh dari sekadar insiden tabrakan—sebuah realita tentang betapa kerasnya tekanan hidup, sampai-sampai bisa melucuti sisa konsentrasi seseorang di jalan raya.
Ada satu detail dari kejadian ini yang cukup membuatku terdiam. Saat ikut memunguti barang dagangannya, entah kenapa instingku otomatis mulai berhitung.
Bawaan si ibu lumayan banyak: Selain meja dan kursi kecil untuk jualan, ada 4 kresek besar yang masing-masing berisi sekitar 10 bungkus nasi rames, plus 1 kresek berisi 10 bungkus sayur.
Untuk ukuran daerah yang masih terbilang pelosok, harga jualnya mungkin di kisaran Rp 7.000 sampai Rp 10.000. Kalau semuanya laku keras hari ini, omzet maksimal yang didapat memang berkisar antara Rp 350.000 sampai Rp 500.000.
Mari kita hitung kasarnya. Jika margin keuntungan dari berjualan makanan rumahan ini sekitar 20%, berarti laba bersih yang dikantongi si ibu hanya sekitar Rp 100.000. Itu pun dengan asumsi skenario terbaik; belum tentu semuanya habis terjual dan belum tentu marginnya bisa sebesar itu.
Seratus ribu rupiah.
Buat kita yang mungkin sedang pusing memikirkan tumpukan kerjaan atau merasa pendapatan bulanan yang ada terpaksa diterima sekadar untuk menyambung hidup—uang seratus ribu mungkin sering dianggap remeh.
Tapi buat ibu ini? Uang tersebut dicari dengan keringat dan taruhan nyawa di jalanan.
Realita ini semakin menampar ketika seorang warga yang ikut membantu menepuk pundak si ibu dan berucap pelan,
“Bu, kamu ini pasti lagi kepikiran anakmu yang di rumah sakit kan? Makanya bawa motor sampai nggak fokus begitu.”
Mendengarnya, dadaku langsung sesak. Kecelakaan ini bukan sekadar urusan kurang hati-hati berlalu lintas.
Ada pikiran kalut seorang ibu yang terpecah antara mencari biaya pengobatan anaknya yang sedang sakit, dan tuntutan untuk terus mencari nafkah.
Beban di kepalanya jelas jauh lebih berat daripada tumpukan muatan motornya.
Sisa perjalanan sehabis mengantar si ibu tadi rasanya beda banget. Kejadian ini bener-bener jadi tamparan keras buatku pribadi.
Kita sering banget ngeluh soal pendapatan yang dirasa kurang atau capeknya rutinitas sehari-hari.
Padahal di luar sana, ada orang yang harus bertaruh nyawa di atas aspal cuma buat bawa pulang seratus ribu untuk keluarganya. Pemandangan pagi ini sukses membungkam semua keluh kesah itu.
Kadang, pemahaman tentang kata ‘cukup’ baru benar-benar meresap saat kita melihat langsung seberapa keras dunia menghantam pundak orang lain.