Sering kali kita disuguhi berita dari para pengamat ekonomi tentang daya beli masyarakat yang menurun, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, atau betapa sulitnya mengatur keuangan rumah tangga di masa sekarang.
Namun, saya curiga para ahli ekonomi itu kurang piknik.
Setiap kali bulan Agustus tiba, saya selalu merasa analisis ekonomi itu keliru. Setidaknya, keliru dalam mengukur tingkat kesejahteraan di tingkat pedesaan.
Jika memang benar kita sedang berada di masa sulit, secara logika perayaan kemerdekaan akan dilakukan dengan penuh kesederhanaan, kontemplasi, dan penghematan.
Namun, pemandangan di lapangan justru menceritakan kisah sukses kemakmuran yang berbeda.
Indikator Kesejahteraan dari Sebuah Malam Puncak
Mari kita amati fenomena perayaan 17-an di lingkungan sekitar. Sangat mudah menemukan sebuah padukuhan mampu menghabiskan anggaran di kisaran Rp 20 juta hanya untuk kegiatan satu hari satu malam.
Dana yang fantastis ini dikelola dengan sangat bijak untuk berbagai keperluan esensial, antara lain:
- Panggung dan Sound System Megah: Bunyi bass yang mampu menggetarkan kaca jendela hingga radius sekian kilometer adalah simbol valid seberapa kuat ekonomi warga.
- Deretan Door Prize Mewah: Mulai dari kipas angin, kulkas, hingga sepeda gunung berjejer rapi, siap dibagikan untuk menghibur warga yang katanya sedang mengencangkan ikat pinggang.
- Hiburan Gemerlap: Mengundang grup musik atau hiburan lokal berbiaya tinggi sebagai bukti nyata bahwa masyarakat kita memiliki apresiasi seni yang tak ternilai harganya.
Semangat Berkorban yang Luar Biasa
Hal yang paling mengagumkan tentu saja bagaimana dana puluhan juta tersebut bisa terkumpul. Semangat gotong royong kita rupanya masih sangat murni.
Donasi, iuran, hingga pengajuan proposal mengalir deras.
Kita seolah memiliki kesepakatan tak tertulis: tidak masalah sedikit pusing memikirkan uang sekolah anak di awal bulan, asalkan panggung di perempatan jalan tidak kalah meriah dari padukuhan sebelah.
Ini adalah bentuk pengorbanan masa kini yang sangat puitis.
Menghamburkan puluhan juta rupiah demi euforia yang akan menguap dalam belasan jam adalah bukti sahih bahwa dompet bangsa kita baik-baik saja.
Tentu saja, setelah panggung dibongkar, tenda dilipat, dan sisa sampah plastik berserakan keesokan harinya, kita akan kembali pada rutinitas yang damai: duduk berkumpul dan kembali mengeluhkan betapa susahnya mencari uang di zaman sekarang.