Berkunjung ke Kantor Ziyadbooks, Belajar Langsung dari Owner-nya

Kemarin saya berkunjung ke kantor baru ziyadbooks di Solo.

Gedungnya empat lantai, dilengkapi lift, dengan sebagian operasional ditopang panel surya. Dari luar, semuanya tampak rapi dan modern—tanda perusahaan yang sudah mapan dan tidak dibangun dengan setengah-setengah.

Namun anehnya, saya tidak pulang membawa cerita tentang kemegahan gedung itu.

Yang justru tertinggal adalah kesederhanaan pemiliknya. Beliau bersedia menemui kami, duduk bersama, dan bercerita tentang perjalanan usahanya—tanpa jarak, tanpa nada ingin terlihat hebat. Dari obrolan itulah saya sadar: bangunan ini hanyalah artefak. Yang jauh lebih menarik adalah proses panjang yang melahirkannya.

Tiga Kata di Bawah Logo

Di area lobi, tepat di bawah logo Ziyadbooks, tertulis tiga kata:
mencerdaskan – menshalihkan – mendunia.

Sekilas ia tampak seperti tagline. Namun semakin lama dibaca, terasa bahwa ini bukan kalimat pemasaran.

Mencerdaskan berbicara tentang akal—buku sebagai alat berpikir.
Menshalihkan berbicara tentang nilai—pengetahuan yang punya arah moral.
Dan mendunia diletakkan terakhir, bukan sebagai ambisi awal, melainkan konsekuensi.

Urutannya tidak bisa dibalik.
Tidak mungkin mendunia tanpa mencerdaskan.
Dan mencerdaskan tanpa menshalihkan hanya melahirkan kepandaian yang kosong.

Di titik itu saya paham: tiga kata ini bukan janji. Ia adalah urutan kerja.

Roadmap Dua Puluh Tahun: Cerita yang Tidak Diburu-buru

Di salah satu sisi kantor, ada sebuah dinding besar berwarna hijau. Bukan galeri pencapaian, bukan kutipan motivasi. Hanya garis panjang dengan penanda tahun—seperti jalan yang ditempuh pelan-pelan, tapi jarang berbelok arah.

1. 2003–2005 — Early Foundation

Perjalanan dimulai tanpa ambisi membesar. Fase awal dipakai untuk belajar: ritme produksi, karakter pasar, dan kebiasaan kerja. Tidak ada jargon pertumbuhan. Yang dibangun adalah fondasi berpikir—rapi, sabar, dan realistis.

2. 2005–2009 — Identity Transformation & Accessing Modern Markets

Identitas dirapikan, arah diperjelas. Masuk ke jaringan toko buku nasional dilakukan bukan demi sensasi, tetapi untuk menstabilkan distribusi. Ini fase merapikan posisi—kurang heroik, tapi menentukan daya tahan.

3. 2012 — Initiating Islamic Children’s Publishing

Titik belok terpenting. Fokus diarahkan ke buku anak-anak Islami. Keputusan ini berat: pasar anak menuntut kesabaran, konsistensi nilai, dan orientasi jangka panjang. Bukan jalan cepat, tapi jalan yang jelas arahnya.

4. 2013–2015 — Infrastructure Strengthening

Setelah fokus mengeras, barulah infrastruktur menyusul. Kantor baru, penguatan imprint, dan percetakan internal dibangun untuk kemandirian dan kendali kualitas. Infrastruktur tidak memimpin visi—ia mengikutinya.

5. 2017–2021 — Building the Reseller Network

Jaringan reseller dibangun pelan-pelan, dengan seleksi. Tidak masif, tidak serampangan. Yang diutamakan adalah ketahanan, bukan keramaian.

6. 2018 — Consolidating Global Insight

Kunjungan ke London Book Fair menjadi ruang belajar, bukan panggung ekspansi. Dari sana lahir kesadaran bahwa buku anak adalah pengalaman belajar yang utuh. Mulailah dikembangkan buku anak dengan suara—bukan gimmick, melainkan perluasan cara belajar: dibaca, didengar, dirasakan.

7. 2020 — Digital Transformation & Pandemic Adaptation

Pandemi datang sebagai stress test. Sistem yang telah disiapkan bertahun-tahun mulai bekerja: jam kerja direorganisasi, pemasaran dipusatkan ke kanal digital, website diperkuat. Hasilnya bukan sekadar bertahan—penjualan justru meningkat.

8. 2021–2022 — Marketplace Expansion

Marketplace dimasuki sebagai perpanjangan kanal, bukan jalan pintas. Posisi digital diperkuat tanpa menggeser arah utama bisnis.

9. 2025 — Two Decades of Growth

Yang dirayakan bukan ledakan angka, melainkan keberlanjutan visi: literasi, dampak, dan ketahanan. Pertumbuhan yang sehat jarang berisik.

PROGRESIF: Cara Ziyadbooks Bertumbuh Tanpa Kehilangan Arah

Di lantai dua kantor, tertulis Core Value: PROGRESIF. Bukan slogan, melainkan cara berpikir yang membuat konsistensi tetap bergerak.

1. Produktif

Produktif bukan soal sibuk, melainkan hasil yang bermakna—disiplin, kualitas, dan manfaat. Terlihat dari kebiasaan membangun sistem sebelum memperbesar skala.

2. Religius

Religius hadir sebagai landasan keputusan, sejajar dengan produktivitas dan inovasi. Bekerja dan beribadah tidak dipisahkan.

3. Optimis

Optimisme yang tenang. Keberanian memilih jalan panjang, percaya bahwa fokus yang benar akan menemukan waktunya sendiri.

4. Gigih

Gigih berarti ulet dan tahan banting tanpa keras kepala. Dua puluh tahun di industri buku anak menuntut ketahanan yang struktural, bukan emosional.

5. Responsif

Peka membaca perubahan tanpa panik. Digitalisasi dan perluasan kanal dilakukan tepat waktu—respons, bukan reaksi.

6. Empati

Bisnis tetap manusiawi. Pembaca, mitra, reseller, dan tim dipahami sebagai manusia—bukan angka.

7. Sinergi

Kolaborasi selektif. Tidak semua orang diajak, tetapi yang diajak harus searah.

8. Inovatif

Inovasi sebagai cara memperbaiki penyampaian nilai, bukan mengejar kebaruan. Buku bersuara lahir dari kebutuhan belajar yang lebih utuh.

Credit: Google Maps ZiyadBooks

Kantor, Gudang, Masjid, dan Satu Garis Nilai

Saya diajak berkeliling ke gudang buku yang jaraknya sekitar 1 km dari kantor ziyadbooks, gudang ini luasnya kurang lebih 1.000 m².
Yang menarik, baik gudang maupun kantor Ziyadbooks sama-sama berada di samping masjid.

Di situ saya menemukan pelajaran yang tidak tertulis di roadmap mana pun: bekerja dan beribadah tidak dipisahkan. Keduanya berjalan di jalur yang sama.

Penutup: Satu Kata yang Menjelaskan Segalanya

Setelah melihat gedung empat lantai, membaca roadmap dua puluh tahun, memahami nilai PROGRESIF, menyusuri gudang di samping masjid, dan mendengar cerita langsung dari pemiliknya—semuanya mengerucut pada satu kata:

KONSISTEN.

Bukan konsisten dalam bicara.
Bukan konsisten dalam pencitraan.
Melainkan konsisten menyelaraskan nilai dengan keputusan.

Konsisten memilih fokus saat peluang lain datang.
Konsisten membangun sistem sebelum membesarkan skala.
Konsisten tidak memisahkan kerja dan ibadah.

Di bawah logo tertulis mencerdaskan, menshalihkan, mendunia.
Dan dua puluh tahun perjalanan ini menunjukkan bahwa urutan itu tidak pernah dilanggar. Mendunia bukan dikejar—ia datang sebagai akibat.

Saya datang untuk melihat bangunan.
Saya pulang membawa pelajaran yang lebih sunyi, tapi lebih mahal:

“bahwa yang paling sulit bukan memulai,
melainkan bertahan dengan arah yang sama, cukup lama, tanpa tergoda berbelok.”

Itulah konsistensi.

Leave a Comment