Beberapa hari lalu, publik menyoroti satu kalimat penutup dari pernyataan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Di tengah penolakannya terhadap gagasan kepolisian berada di bawah kementerian, ia mengatakan bahwa daripada menjadi menteri, ia lebih memilih menjadi petani.
Kalimat itu singkat. Tidak menyerang siapa pun. Tidak menjelaskan maksudnya.
Namun justru di situlah menariknya: satu kata “petani” membuka banyak tafsir.
Artikel ini tidak akan membahas setuju atau tidak setuju soal kementerian kepolisian.
Yang lebih penting adalah pertanyaan di balik pilihan kata itu sendiri: mengapa “petani” selalu dijadikan pembanding ketika kekuasaan ingin dihindari?
Petani sebagai Simbol, Bukan Profesi
Dalam banyak pernyataan pejabat, petani jarang disebut sebagai tujuan karier.
Ia lebih sering hadir sebagai simbol: kehidupan sederhana, jauh dari intrik, dekat dengan tanah, dan seolah bebas dari politik.
Petani menjadi metafora untuk “hidup yang bersih”, bukan jabatan yang diperebutkan.
Ia diposisikan di luar sistem kekuasaan—bukan sebagai bagian yang ingin diperkuat di dalamnya.
Ini penting dicatat: yang dibicarakan sering kali bukan petani sebagai profesi nyata, melainkan petani sebagai ide.
Dimuliakan dalam Ucapan, Ditinggalkan dalam Sistem
Secara retoris, petani hampir selalu ditempatkan di posisi terhormat.
Ia disebut tulang punggung bangsa, penjaga pangan, simbol ketulusan kerja.
Namun dalam praktik:
- posisi tawar petani lemah,
- pendapatan tidak stabil,
- akses teknologi dan pasar terbatas,
- dan kebijakan sering datang terlambat.
Di sinilah kontradiksi itu muncul.
Petani dimuliakan dalam bahasa, tetapi tidak selalu diprioritaskan dalam kebijakan.
Jika petani benar-benar dianggap pilihan hidup yang ideal, maka seharusnya sistem membuat hidup petani layak, aman, dan bermartabat—bukan sekadar simbol kesederhanaan.
Ketika Kekuasaan Membutuhkan Kontras
Pernyataan “lebih baik menjadi petani” tidak harus dimaknai sebagai penghinaan.
Namun juga tidak otomatis merupakan bentuk pemuliaan.
Ia bekerja sebagai kontras:
menteri dilihat sebagai puncak struktur kekuasaan,
petani dilihat sebagai kebalikannya—hidup di luar hiruk-pikuk jabatan.
Pertanyaannya bukan apa maksud pribadi pembicara,
melainkan mengapa imajinasi kolektif kita masih menempatkan petani sebagai “jalan keluar”, bukan “posisi yang layak diperjuangkan”.
Pertanyaan yang Perlu Kita Tahan
Barangkali persoalannya bukan pada satu kalimat, atau satu orang.
Melainkan pada kebiasaan kita menggunakan petani sebagai simbol moral, tanpa serius memperbaiki realitasnya.
Apakah petani hanya akan terus hadir sebagai metafora kesederhanaan?
Atau suatu hari benar-benar diperlakukan sebagai profesi yang secara sistemik dihormati—bukan hanya dipuji?
Artikel ini tidak memberi jawaban.
Ia hanya mengajak kita menahan satu pertanyaan itu sedikit lebih lama.